Print on demand, wajah baru bisnis konveksi

print on demand wajah baru bisnis konveksi

Mengusung tema ‘bisa cetak satuan’ mendorong banyak pelaku bisnis untuk mulai beralih ke model bisnis konveksi terbaru. Di internasional, sudah banyak sekali konveksi yang mungkin saja sudah tidak asing lagi namanya di telinga kita. Sebut saja seperti Teespring, redbubble, atau teefury. Mereka dalah beberapa dari banyak pemain POD (print on demand) yang saat ini sudah tidak bisa dipandang sebelah mata.

Misalnya, jika Anda masih ingat kisah Albert Leonardo yang berhasil menjual sekitar 20.000 kaos dalam waktu yang cepat. Membuat dirinya sempat dipanggil untuk diwawancarai sebagai tamu kehormatan di Teespring. Benar-benar membuat akal sehat kita harus diatur ulang. Bahwa POD merupakan wajah baru bisnis Konveksi.

Apa sih POD itu

POD (print on demand) adalah sebuah sistem cetak yang memungkinkan untuk membuat hasil cetakan dalam jumlah kecil, atau bahkan satuan. Sistem ini didukung oleh mesin cangggih yang biasa dikenal dengan sebutan sablon DTG (direct to garment). Jangan tanya harganya ya, bukan karena mahal, tapi karena saya ga tahu, hehehe.

Sederhanya melalui terobosan ini membuka sebuah celah bisnis baru, baik untuk konveksi selaku perusahan dan para konten kreator. Nah, kenapa konten creator, sebaiknya Anda lanjutkan membaca karena Anda akan semakin mengerti.

POD jaman now

Sebenarnya saya sudah sejak lama mengetahui ada metode seperti ini. Sejak saya kuliah 5 tahun lalu, saya sudah mengenal konveksi serupa yang mengusung sistem ini, yaitu tees.co.id. Namun karena minimnya pengetahuan, saya pun meragukan apakah model bisnis seperti ini mampu bersaing dengan bisnis konveksi raksasa yang kita kenal. Mengingat mau mencoba bisnis apapun harus memiliki modal uang yang besar, tentu membuat kita berpikir ulang jika ingin menjadi pengusaha.

Di negara paman sam, model bisnis ini berkembang pesat, dengan sebuah sudut pandang yang baru. Ya benar-benar baru, dan malah membuka jenis penghasilan yang baru juga. Seperti kisah yang dialami oleh Albert di atas. Dan model bisnis tersebut adalah membuka seluas-luasnya peluang untuk siapa pun menciptakan desain sablon pakaian yang diinginkan. Itu artinya konveksi atau yang sekarang menjadi perusahan, bisa lebih fokus pada menerima transaksi dan produksi cetaknya saja.

Peluang desainer

Dengan dibuka peluang yang lebar untuk siapa saja mendesain kaosnya sendiri, tentu yang paling diuntungkan adalah desainer. Karena keahlian mendesain kaos melalui media digital sebagian desainer sangat menguasai bidang ini. Dan tentunya tidak perlu pusing memikirkan produksi. Cukup mendesain dan biarkan uang mengalir ke rekening Anda. Itulah mengapa Albert Lenardo yang saat ini prestasinya masih belum bisa digantikan oleh desainer grafis lain. Terkhusus dalam menjual kaos POD di Teespring.

Biasanya besaran royalti yang didapat dari pemilik desain setelah dia bergabung dan menjual desainnya,adalah sekitar 20% dari harga jual pakaian tersebut. Bayangkan seandainya Anda mampu menjual sebanyak 100 pcs dari 1 buah desain setiap bulannya. Anggaplah sekitar 20.000 untuk setiap kaos seharga 100.000. maka Anda akan mengantongi keuntungan sebesar 2.000.000 selama sebulan untuk setiap desain yang Anda jual. Bagaimana jika lebih dari 1 desain, banyakan saja.

Kesimpulan

POD dengan model bisnis baru dimana menjadikan siapapun boleh mendesain dan menjual kaos buatannya sendiri. Benar-benar telah menjadi angin segar bagi siapa saja yang ingin berbisnis kaos namun minim modal. Dengan catatan mampu menarik minat orang banyak untuk membeli desain yang Anda buat. Bukan tidak mungkin 20.000 pcs lebih kaos bisa Anda jual. Semangat!

Semoga artikel yang saya tulis ini membantu Anda.

Reza Pahlevi.

Check Also

Cara meningkatkan penjualan di Instagram

Anda bingung bagaimana cara meningkatkan penjualan di instagram? Simak penjelasan saya di bawah ini. Zaman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *