Standar tidak tertulis sebagai seorang desainer grafis

standar tidak tertulis sebatgai desainer grafis

Dengan mengetahui apa yang menjadi standar kerja seorang desainer grafis, akan membantu Anda untuk lebih mengenal pekerjaan yang Anda cintai ini. Dan dengan begitu Anda bisa jauh lebih memahami apa yang menjadi bagian utama dan yang bukan atau inovasi.

Standar pekerjaan pada umumnya sama, dan tidak jauh berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya. Namun, pada setiap pekerjaan memiliki keunikannya tersendiri yang menjadi syarat mutlak atau standar pekerjaannya. Dan beberapa poin lain bisa menjadi bentuk inovasi, selama berada diluar standar pekerjaan sebagai desainer grafis ini. Tanpa berlama-lama mari kita lanjutkan saja.

Standar kerja desainer (non formal)

Di bawah ini saya tulis 6 poin yang saya rasakan sangat dibutuhkan bagi seorang desainer grafis dalam menjalani karirnya. Selama saya bekerja pada sebuah start-up onveksi beberapa tahun kebelakang. Poin-poin ini saya bagi menjadi 2 bagian. Yaitu, 3 poin umum, dan 3 poin khusus.

Profesional

Pekerjaan apa pun jelas menuntut profesionalitas. Dalam KBBI profesionalitas merujuk pada kemampuan untuk bertindak secara profesional. Yang berarti menuntaskan pekerjaan secara benar dan totalitas. Maka, seeorang yang pekerjaannya yang tidak selesai atau tidak tuntas, bisa dikategorikan tidak profesional. Juga dengan mencurahkan sumber daya pikiran dan tenaganya untuk pekerjaanya tersebut, bisa menjadi salah satu tolak ukur sebuah profesionalitas.

Jadi, pada poin ini, jelas semua pekerjaan menuntut profesinalitas. Fokus dan tidak boleh tercampur oleh emosi apapun. Bayangkan jika emosi mencampuri pekerjaan, maka pekerjaan ANda bisa berat sebelah. Misalnya saja Anda senang, maka Anda bisa melebihi jatah servis desain yang Anda berikan. Begitu juga jika Anda merasa kesal, maka Anda bisa membatasi servis yang Anda berikan. Jelas ini tidak baik, karena Anda melanggar standar bekerja Anda secara tidak langsung.

Tepat waktu

Jangan kira deadline hanya dialami oleh desainer grafis. Pekerjaan seperti penulis, editor, atau bahkan mahasiswa pun juga mengalami. Maka dari itu apapun pekerjaannya sangat dituntut ketepatan waktunya. Sehingga bisa lanjut ke pekerjaan berikutnya. Atau pekerja lain bisa melanjutkan tugasnya dengan sumber dari pekerjaan yang sudah Anda selesaikan.

Hal yang paling bertentangan dengan poin ini adalah penundaan waktu. Jelas sekali ketika kita sudah mengetahui kerangka waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Seringnya kita jadi punya alasan untuk menunda. Meskipun kita bisa menyelesaikannya dalam waktu yang relatif lebih cepat.

Detail

Apa jadinya bila sebuah pekerjaan tidak diselesaikan dengan detail. Alias asal jadi atau asal selesai. Tentu bagian-bagian yang rinci menjadi luput dari pengamatan. Misalnya seperti 2 digit dibelang koma pada perhitungan, atau detil-detil kecil lainnya. Setiap detil kecil yang terselesaikan bisa menjadi informasi yang berharga bagi pekerjaan itu sendiri. Atau bisa membantu bidang pekerjaan lainnya.

Dalam profesi desainer grafis, detail menjadi sudah menjadi kewajiban. Bayangkan saja bila sebuah kurva tidak dibuat dengan detil, tentu akan berimbas pada elemen-elemen penyusun desain itu sendiri. Sehingga akan menurunkan nilai atau persepsi yang sedang dibangun melalui elemen visual dalam desain tersebut. (agak tinggi ya bahasanya, hehehe)

Kreatif

Cukup berbahaya menurut saya bila seorang desainer dalam sebuah interview menjelaskan bahwa keunggulan yang dimilikinya adalah kreatifitas. Karena kreatif adalah poin standar, dan bukan poin inovasi. Jadi jangan sampai salah memaknainya. Bayangkan jika seorang desainer grafis tidak kreatif, bisa dipastikan dia kurang membaca. Juga kurang memaksimalkan kelima panca indranya. Seorang desainer tidak boleh hanya mengandalkan indra penglihatannya saja dalam membangun kreatifitasnya.

Untuk itu poin ini mutlak harus dimiliki seorang desainer grafis. Jadi jangan lagi deh mencantumkan kreatifitas sebagai faktor keunggulan atau kelebihan Anda. Namun, akan lebih baik bila Anda menempatkannya pada kolom standarisasi pekerjaan Anda.

Bagus

Gambar yang jelek bisa menjadi patokan bahwa kemampuan mendesain yang patut dipertanyakan. Bagus di sini bukan hanya dari sudut pandang estetika (keindahan) saja, namun juga dari sudut pandang lainnya. Seperti penempatan, kesesuaiannya, keseimbangannya, penekanannya dan lain-lain. Sehingga standarisasi bagus tidak boleh hanya dilihat subjektif melalui aspek keindahannya saja, namun wajib dikaji melalui aspek lainnya.

Bayangkan seperti ini, Anda mendapatkan tugas untu membuat sebuah desain iklan cetak. Anda sudah membuat dengan baik, dan melalui aspek keindahan sudah mencukupi. Namun, belum sesuai pada aspek lainnya. Sehingga desain iklan yang Anda buat itu belum bisa memberikan efek yang maksimal saat digunakan.

Solutif

Pekerjaan desainer grafis bagi saya sangat lah mirip dengan pekerjaan seorang programmer komputer. Meski tidak sama dalam konteks bidang, namun memiliki hakikat kerja yang sama. Yaitu, desainer harus mampu menerjemahkan permintaan klien atau atasan menjadi sebuah visualisasi yang solutif atas masalah yang di alami. Dan hasil pekerjaannya pun wajib bisa dimengerti dan dimaknai dengan benar oleh pemirsa yang melihat.

Sehingga desainer maupun programmer adalah jembatan yang menghubungkan antara klien dengan pemirsanya. Jadi sangat diwajibkan desain yang kita buat ini solutif atas masalah yang dialami oleh atasan atau klien Anda.

***

Apa yang saya sampaikan di atas bukan lah hal baku yang bisa Anda temukan pada materi eksak pendidikan desainer, namun lebih kepada rumusan poin yang saya rasakan selama bekerja menjadi desainer grafis pada sebuah startup konveksi beberapa tahun kebelakang.

Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan Anda.

Reza Pahlevi

Check Also

Print on demand, wajah baru bisnis konveksi

Mengusung tema ‘bisa cetak satuan’ mendorong banyak pelaku bisnis untuk mulai beralih ke model bisnis …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *